Kamis, 15 September 2011

Kebaikan-Kebaikan Akan Menghapus Kejahatan

 Ini adalah ulasan tentang beberapa amalan yang mudah dilaksanakan dan akan mendapatkan ganjaran pahala yang sangat besar dengan karunia dari Allah. Amalan-amalan ini banyak dilalaikan dan diremehkan oleh sebagian besar manusia, padahal di dalamnya terdapat banyak pahala, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Memperbanyak sholat di al-Haramain asy-Syarifain (Masjid Haram dan Masjid Nabawi). Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra. Rasulullah saw. bersabda: Shalat di masjidku ini lebih afdhal dari 1000 sholat di masjid lainnya kecuali masjid Haram, dan sholat di masjid Haram lebih afdhal dari 100.000 sholat di masjid lainnya. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Dan sholat seorang wanita di rumahnya lebih baik daripada sholat di masjid Haram dan masjid Nabawi. 

2. Sholat di masjid Quba`. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang keluar hingga sampai ke masjid ini, masjid Quba`, lalu sholat di dalamnya, maka baginya pahala yang sama dengan (pahala) umroh. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah). 

3. Rutin melaksanakan sholat Dhuha. Dan waktu yang terbaik untuk melaksanakannya adalah ketika matahari sudah semakin terik, Rasulullah saw. bersabda: Sholatnya orang-orang yang bertaubat adalah ketika unta kecil telah merasakan panasnya (matahari). (HR. Muslim). 

4. Menggandakan istighfar, seperti dengan membaca doa: Ya Allah, ampunilah orang-orang mukminin dan mukminat, orang-orang muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup di antara mereka maupun yang sudah meninggal. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang meminta ampun untuk orang-orang mukmin dan mukminat maka Allah akan menuliskan untuknya setiap mukmin dan mukminat satu kebaikan. (HR. Thabrani). 

5. Qiyamul Lail pada saat Lailatul Qodar. Tahukah Anda bahwa pahala orang yang melaksanakan qiyamul lail pada saat lailatul qodar lebih afdhal dari pahala ibadah selama kira-kira 83 tahun lebih 3 bulan? Allah swt. berfirman: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan ijin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qodar: 1-5). 

6. Menggandakan tasbih, yaitu dengan membaca: Maha suci Allah dan dengan memuji-Nya sebanyak makhluk-Nya, keridhoan diri-Nya, seberat Ars-Nya, dan sepanjang kalimat-Nya. 

7. Membaca doa ketika akan memasuki pasar. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang memasuki pasar maka hendaklah ia membaca [Laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumiitu, wa huwa hayyun laa yamuutu, biyadihil khoir, wa huwa `alaa kulli syai`in qodiir.] (Tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian, Yang menghidupkan dan Mematikan. Ia hidup dan tidak mati, di Tangan-Nya kebaikan dan Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu.), maka Allah akan menulis baginya satu juta kebaikan, dihapuskan darinya satu juta kejelekan dan diangkat derajatnya satu juta derajat. Dan dalam riwayat lain disebutkan: Dan akan dibangun untuknya rumah di surga. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim). 

8. Berumroh di bulan Romadhon. Karena berumroh di bulan Romadhon sama dengan berhaji sekali. Sebagaimana sebda Rasulullah saw. kepada Ummu Sinan: Bila bulan Romadhon tiba maka berumrohlah karena berumroh di saat tersebut sama dengan berhaji sekali. Atau bersabda: sama dengan berhaji bersamaku. (Muttafaqun `alaihi). 

9. Mengamalkan adab-adab pada hari Jumat. Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang memandikan atau mandi lalu bersegera dan berjalan kaki, tidak dengan mengendarai sesuatu, lalu mendekati imam, menyimak dan tidak bercanda, maka baginya setiap langkah amal setahun pahala puasa dan sholatnya. (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai). 

10. Puasa. Nabi saw. menganjurkan untuk memperbanyak puasa sunnah dalam beberapa hari tertentu dalam satu tahun, misalnya puasa dua hari (Senin dan Kamis), hari-hari putih (13, 14, 15 setiap bulan Hijriah), bulan Sya`ban, enam hari di bulan Syawal, Muharrom, puasa hari Arafah bagi selain jemaah haji dan pada hari Asyura. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya (dirinya) dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan. (HR. Ahmad). 

11. Memberi buka puasa bagi orang-orang yang berpuasa. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang memberi buka pada orang yang berpuasa maka baginya sama dengan pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun. (HR. Ahmad dan Tirmidzi). 

12. Memperbanyak ucapan: [Laa haula walaa quwwata illaa billah] (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.). Karena ucapan ini adalah salah satu kekayaan surga, sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadits Muttafaqun `alaihi dari Rasulullah. 

13. Memenuhi kebutuhan manusia. Rasulullah saw. bersabda dalam salah satu hadits yang panjang: Aku berjalan beriring dengan saudaraku sesama muslim dalam suatu keperluan lebih aku senangi daripada beri`tikaf di masjid selama satu bulan. (HR. Thabrani dan ditahsin oleh Al-Albani). 

14. Sholat dua rokaat setelah terbitnya matahari. Dari Anas bin Malik ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang sholat subuh berjamaah lalu duduk-duduk berdzikir kepada Allah hingga terbitnya matahari kemudian sholat dua rokaat maka ia akan mendapatkan pahala haji dan umroh. Beliau berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sempurna, sempurna, sempurna. (HR. Tirmidzi dan ditahsin oleh Al-Albani). 

15. Menyantuni anak yatim. Dari Sahal bin Saad bahwa Rasulullah saw. bersabda: Saya dan pengasuh anak yatim di surga seperti ini. (HR. Bukhari) Beliau memberi isyarat dengan kedua jarinya, jari telunjuk dan tengah. Dan Anda bisa melakukan itu melalui salah satu yayasan atau lembaga sosial lainnya. 

16. Senantiasa sholat jenazah. Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang menghadiri jenazah hingga disholati maka baginya pahala satu qirath, dan siapa yang menghadirinya hingga dimakamkan maka ia akan mendapatkan dua pahala qirath. Dikatakan kepada beliau: Apakah qirath itu? Beliau menjawab: Yaitu seperti dua gunung yang besar. (Muttafaqun `alaihi). 

17. Memperbanyak sholawat untuk Nabi saw.Jadi barangsiapa yang bersholawat untuk nabi saw. sekali, maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali, dan akan menjadi manusia paling utama nanti pada hari kiamat. Allah swt. mewakilkan malaikat yang berkeliling menyampaikan salam ummatnya kepada nabi mereka. 

18. Sholat Isya dan Subuh secara berjamaah. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang sholat isya secara berjamaah maka seakan-akan ia telah melaksanakan sholat tengah malam, dan barangsiapa yang sholat subuh berjamaah maka seakan-akan ia telah melaksanakan sholat sepanjang malam. (HR. Muslim). 

19. Membaca tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali pada setiap selesai sholat, lalu membaca: laa ilaaha illallahu, wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wahuwa `alaa kulli syai`in qodiir. Ucapan ini memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana diriwayatkan dalam hadits tentang orang-orang fakir Muhajirin yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah (hadits panjang Muttafaqun `alaihi) dalam bab Dzikir-dzikir yang dibaca setelah sholat fardhu. 

20. Dakwah kepada Allah dan menasihati orang lain. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia pun akan menanggung dosa yang sama dengan dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun. (HR. Muslim). Jadi bila Anda menasihati orang lain untuk menuju Allah maka pahala nasihat itu ukan mengalir untukmu selama nasihat itu masih berguna bagi dirinya hingga hari kiamat. Misalnya dengan menyebarkan kebaikan seperti tulisan-tulisan yang ada di hadapan Anda sekarang ini, maka Anda akan mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat dengan adzin Allah swt.. 

21. Sholat empat rokaat sebelum ashar. Sabda Rasulullah saw.: Semoga Allah merahmati seseorang yang sholat 4 rokaat sebelum ashar. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Empat rokaat itu dilakukan dengan dua salam setelah adzan dan sebelum iqomah. 

22. Mengunjungi orang yang sakit. Sabda Rasulullah saw.: Barangsiapa mengunjungi orang yang sakit, maka ia akan tetap di khurfah surga. Rasulullah saw. ditanya: Apakah khurfah surga itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Buah surga yang dipetik. (HR. Muslim). Dan Anda akan diampuni oleh 70.000 malaikat. (Sebagaimana yang terdapat dalam hadits panjang.) 

23. Puasa, mengikuti jenazah, menengok orang yang sakit, dan memberi makan orang miskin. Bila semua ini terkumpul pada seorang muslim pada satu hari maka ia akan masuk surga dengan karunia Allah, sebagaimana yang terjadi pada diri Abu Bakar ra., di mana Rasulullah saw. bersabda dalam hadits yang panjang: Tidaklah hal itu semua berkumpul pada seseorang kecuali ia akan masuk surga. (HR. Muslim). 

24. Mengadakan perdamaian di antara manusia. Allah swt. berfirman: Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi shodaqoh atau berbuat ma`ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. (QS. An-Nisa: 114). Dan banyak hadits yang menunjukkan keutamaan hal itu, yang tidak mungkin kita membahasnya semua karena kesempatan yang terlalu sempit. 

25. Memperbanyak ucapan [Subhaanallahi walhamdulillahi walaailaaha illallahu wallahu akbar]. Ucapan ini lebih afdhal daripada hari terbitnya matahari, sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Nabi saw.. Ucapan ini juga termasuk yang paling disenangi oleh Allah swt. sebagaimana dalam hadits shohih. 

26. Membaca QS. Al-Ikhlas berulang-ulang. Karena surat ini sebanding dengan sepertiga Al-Quran dalam hal pahala dan kandungan maknanya, di mana surat ini mengandung Tauhid, pengagungan dan penghormatan kepada Allah swt.. Rasulullah saw. bersabda: Qul huwallahu ahad, sebanding dengan sepertiga Al-Quran, dan Qul yaa ayyuhal kaafirun, sebanding dengan seperempat Al-Quran. (HR. Thabrani dan ditashih oleh as-Suyuti dan al-Albani). Dan perlu diperhatikan bahwa sepertiga dalam keutamaan tidak berarti merasa cukup membacanya dan meninggalkan bacaan surat-surat Al-Quran lainnya. 

27. Shodaqoh jariyah. Misalnya dengan membantu pembangunan masjid, penggalian sumur, madrasah, tempat pengungsian, pendidikan anak tentang agama yang benar dan adab-adab Islam serta pendidikan anak untuk selalu melakukan kebaikan, karena bila anak Adam meninggal maka amalannya akan terputus kecuali tiga hal, di antaranya adalah anak sholeh yang mendoakan orang tuanya. Termasuk pula mencetak, menyebarkan dan membagikan buku-buku dan kaset-kaset yang berguna ataupun memberikan dukungan dana melalui kantor-kantor kerjasama dakwah, penyuluhan dan bimbingan untuk orang-orang asing atau yayasan dan lembaga keagamaan. 

28. Sholat empat rokaat sebelum dhuhur dan empat rokaat setelahnya. Dari Ummu Habibah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang senantiasa melaksanakan sholat sunnat 4 rokaat sebelum dhuhur dan 4 rokaat setelah dhuhur maka Allah akan mengharamkan baginya neraka. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Empat rokaat itu dengan dua salam antara adzan dan iqomah, dan 4 rokaat dengan dua salam setelah sholat dhuhur. 

29. Qiyamul Lail, menyebarkan salam dan memberi makan. Dari Abdullah bin Salam ra., Nabi saw. bersabda: Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makan dan sholatlah di waktu malam sementara manusia sedang tidur, maka kalian akan masuk surga dengan selamat. (HR. Tirmidzi). Rasulullah saw. bersabda: Sholat yang paling afdhal setelah sholat fardhu adalah sholat lail. (HR. Muslim). 

30. Mengikuti ucapan muadzin. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang membaca ketika mendengar adzan: [Allahumma rabba hadzihidda`watittaammati washsholatil qooimati aati Muhammadanil wasiilata walfadhiilata wab`atshu maqoomam mahmuudanilladzi wa `adtah] (Ya Allah, Tuhan pemilik panggilan yang sempurna ini (adzan) dan sholat (wajib) yang ditegakkan ini. Berilah wasilah (derajat yang tinggi) dan fadhilah kepada Rasulullah dan bangkitkanlah beliau pada maqom yang terpuji yang telah Engkau janjikan.) Maka ia berhak mendapatkan syafaatku nanti pada hari kiamat. (HR. Bukhari). 

31. Memperbanyak membaca dan menghapal Al-Quran. Allah swt. berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (QS. Faathir: 29). Dari Ibnu Mas`ud ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah maka baginya satu kebaikan dan kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan bahwa `alif laam mim` itu satu huruf, tetapi `alif` satu huruf, `laam` satu huruf, dan `mim` satu huruf. (HR. Tirmidzi dan berkata: Hadits hasan shohih). 

32. Memperbanyak dzikir kepada Allah.Sabda Rasulullah saw.: Maukah kalian aku kabarkan kepada kalian amalan yang paling baik dan suci yang kalian miliki, yang paling tinggi dalam derajat kalian, paling baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak dan lebih baik daripada ketika kalian bertemu musuh lalu kalian memenggal lehernya atau mereka memenggal leher kalian? Mereka menjawab: Tentu. Beliau bersabda: Yaitu dzikir kepada Allah Ta`ala. (HR. Tirmidzi). 

Sholawat dan salam untuk nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.

(Diambil dari buletin Daar Al-Gasem, For Publishing & Distribution, Saudi Arabia P.O. Box 6373 Riyadh 11442, telp. 4775311 - Fax 4774432)


Semangat Mengajak Manusia ke Jalan Allah

Bilamana seorang muslim berhasil menyesuaikan ambisi hidupnya dengan ambisi hidup Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam, niscaya ia akan menjadi seorang muslim yang selalu bersemangat mengajak manusia ke jalan Allah subhaanahu wa ta’aala. Ambisi utama Nabi kita Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam dalam hidupnya di dunia yang fana ini ialah menginginkan keimanan dan keselamatan atas manusia.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ

”Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu.” (QS AtTaubah ayat 128)



Setiap manusia yang berjumpa dengan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam diperlakukan oleh beliau sebagai sasaran da’wah. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam tidak pernah melewatkan satupun kesempatan berjumpa dengan manusia kecuali orang itu diajaknya mengikuti jalan Allah ta’aala. Beliau sangat ingin agar setiap manusia merasakan manis dan lezatnya iman dan Islam. Beliau sangat yakin bahwa hanya dengan menempuh jalan Allah ta’aala sajalah seseorang bakal selamat hidupnya di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam membangkitkan semangat agar ummatnya seperti beliau dalam mengajak manusia ke jalan Allah ta’aala.

لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ (متفق عليه)
“Demi Allah, jika Allah memberikan petunjuk-hidayah kepada seseorang karena ajakanmu, maka itu lebih menguntungkan bagimu daripada mendapat onta merah.” (Bukhary-Muslim)

Jika kita renungkan hadits di atas, maka pasti seorang muslim akan bersemangat mengajak manusia agar memperoleh hidayah Allah ta’aala. Bayangkan, bila kita sukses mengajak seseorang sehingga Allah ta’aala izinkan orang itu memperoleh hidayah-Nya, maka bagi kita yang mengajak dijamin bakal memperoleh reward berupa sesuatu yang lebih baik daripada seekor onta merah..! Onta merah merupakan kendaraan yang dinilai paling mewah di zaman Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ’anhum. Mungkin kalau di zaman kita sekarang seperti mobil Jaguar, Rolls Royce atau bahkan Maybach yang konon harganya mencapai dua puluh miliar rupiah per unit..!

Bilamana Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam berjumpa dengan seorang non-muslim beliau segera mengucapkan kalimat ajakan da’wah penuh cinta kasih yang singkat, jelas dan bermakna:

أَسْلِمْ تَسْلَمْ
”Masuk Islam-lah, niscaya engkau bakal selamat di dunia dan di akhirat.” (HR Ibnu Majah 1/95)

Seorang sahabat Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bernama Adi bin Hatim radhiyallahu ’anhu menceritakan bagaimana ia ketika pertama kali berjumpa dengan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Saat itu ia masih beragama Nasrani. Ketika berjumpa dengan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam, maka kalimat pertama yang langsung disampaikan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kepadanya adalah kalimat di atas. Jadi tanpa keraguan bahkan penuh cinta dan keyakinan, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengajak Adi bin Hatim radhiyallahu ’anhu untuk langsung memeluk agama Islam dengan jaminan bakal selamat di dunia dan di akhirat.

Seyogyanya seorang muslim berusaha mengikuti semangat dan langkah da’wah yang dicontohkan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Hendaknya kita berusaha menyingkirkan segenap keraguan dan keengganan kita mengajak siapapun ke jalan keselamatan Islam. Dengan selalu mengingat betapa besarnya karunia iman dan Islam bagi kehidupan seseorang. Justru jika kita sudah mengajak orang lain ke jalan Allah ta’aala berarti kita telah memenuhi hak asasinya sebagai seorang manusia sekaligus hamba Allah ta’aala. Hak asasinya untuk mendengar seruan kebenaran untuk selanjutnya bebas memilih menyambutnya atau mengingkarinya. Soal ia akhirnya beriman atau tidak itu bukan urusan kita. Yang penting kewajiban kita telah gugur dengan kita sudah berda’wah mengajak mereka ke jalan Allah ta’aala. Sebab pada akhirnya hak memberikan hidayah atau membiarkan seseorang tetap sesat adalah hak dan kuasa Alllah ta’aala.

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

” Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS AnNahl ayat 125)

Inilah hakekat ummat Islam menjadi Rahmatan lil ‘aalamiin (rahmat bagi segenap alam). Alangkah jauhnya dari berperan menjadi rahmat bilamana ummat Islam yang telah memperoleh ni’mat paling istimewa, yakni ni’mat iman dan Islam, kemudian tidak peduli dengan nasib fihak lain yang hidupnya belum mengikuti petunjuk-hidayah Allah ta’aala. Alangkah bakhilnya kita terhadap urusan iman dan masuk surga. Alangkah egoisnya kita bilamana kita tahu dan yakin bahwa iman dan Islam ini akan menyelamatkan kita di alam kubur apalagi di akhirat kelak nanti, sedangkan teman kerja kita, atau tetangga kita, bahkan saudara kita yang bukan muslim, bakal celaka di alam kuburnya serta di akhirat nanti. Namun kita sama sekali tidak berupaya menyelamatkan mereka semata karena kita lebih memperhatikan kemaslahatan kondisi perasaan kita dan mengabaikan kewajiban kita berda’wah.

Alangkah ironisnya bila kita melihat berbagai fihak dan kelompok lain demikian bersemangat dalam menyebarkan misi ajarannya padahal mereka sesungguhnya dalam kesesatan. Sedangkan kita yang sejatinya berada dalam kebenaran dan rahmat Allah ta’aala justru tidak berfikir dan berusaha menyebarkan ajaran Allah ta’aala yang sebenarnya bakal menyelamatkan siapapun yang mau menerima undanganNya...!

Ya Allah, limpahkanlah penghargaan dan kehormatan setinggi-tingginya melalui sholawat dan salam kami bagi NabiMu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam, da’i sempurna teladan kami, yang telah menunjukkan kepada kami jalan keimanan dan keselamatan hakiki... Walhamdulillah...


Sumber : http://www.eramuslim.com/suara-langit/undangan-surga/semangat-mengajak-manusia-ke-jalan-allah.htm

Rabu, 14 September 2011

RENUNGAN : Kisah Hasan Basri dan Gadis Kecil

Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusut dan terurai, tak beraturan.

Al-Bashri  tertarik melihat penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu. Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya. “Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini.” Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, “Ayahmu juga sebelumnya tak mengalami peristiwa seperti ini.”

Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makam ayahnya. “Gadis kecil yang bijak,” gumam Al-Bashri. “Aku akan ikuti gadis kecil itu.”

Gadis kecil itu tiba di makam ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri.
 
 “Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur?  Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah?  Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah?  Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam?

“ Ayah, Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?. Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalam, ayah?  Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikanmu tadi malam Ayah?  Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah?  Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?”
 
Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu.
“Hai, gadis kecil jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah: “Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah?  Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkah kain kafan itu, atau telah tercabik-cabik, Ayah?  Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, Ayah?.

“Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?”

“Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?”

“Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?”

“Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik waktu didunia. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?”

“Jika kupanggil, engkau selalu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?”
“Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti.”

Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata,” Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai.”

Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.
 
http://renungandanmotivasiiftyacute.blogspot.com/

Doa Untuk Memperoleh Ridho Allah

Seorang Muslim senantiasa mengharapkan Ridho Allah dalam setiap sepak terjang aktifitasnya. Sebab ia tahu bahwa hanya dengan memperoleh Ridho Allah sajalah hidupnya menjadi lurus, terarah dan benar. Seorang Muslim yang mengejar Ridho Allah berarti menjadi seorang beriman yang ikhlas. Orang yang ikhlas dalam ber’amal merupakan orang yang tidak bakal sanggup diganggu apalagi dikalahkan oleh syetan. Allah menjamin hal ini berdasarkan firmanNya dimana dedengkot syetan saja, yakni Iblis, mengakui ketidak-berdayaannya menyesatkan hamba-hamba Allah yang mukhlis.

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ

وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

”Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". (QS Al-Hijr ayat 39-40)

Orang-orang yang telah menjadikan Ridho Allah semata sebagai tujuan hidupnya tidak mungkin dapat disimpangkan dari jalan yang benar. Mereka tidak mempan di-iming-imingi dengan kenikmatan apapun di dunia ini. Sebab mereka sangat yakin bahwa kenikmatan jannah (surga) yang Allah janjikan bagi mereka tidak bisa disetarakan apalagi dikalahkan oleh kenikmatan duniawi bagaimanapun bentuknya. Harta, tahta maupun wanita tidak mungkin mereka dahulukan daripada kenikmatan ukhrawi surgawi yang Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sendiri gambarkan sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّه

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ

وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: Allah berfirman: “Aku telah sediakan untuk hamab-hambaKu yang sholeh apa-apa yang tidak pernah mata memandangnya, dan tidak pernah telinga mendengarnya dan tidak pernah terbersit di dalam hati manusia.” ( HR Bukhary)

Hamba-hamba Allah yang mukhlis kebal terhadap berbagai ancaman manusia berupa siksa dan penderitaan duniawi apapun, karena bagi mereka tidak ada yang lebih menakutkan daripada ancaman Allah berupa siksa dan penderitaan hakiki di dalam neraka akhirat kelak. Mereka memiliki sikap seperti sikap para tukang sihir Fir’aun yang semula loyal kepada penguasa zalim tersebut, namun setelah menyaksikan betapa unggulnya kekuatan Allah lewat performa NabiNya Musa, maka akhirnya mereka bertaubat. Mereka selanjutnya meninggalkan (baca: baro’ alias berlepas diri dari) Fir’aun dan tidak menghiraukan ancamannya bagaimanapun bentuknya:

قَالَ آَمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آَذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَسَوْفَ تَعْلَمُونَ لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ قَالُوا لَا ضَيْرَ إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ إِنَّا نَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطَايَانَا أَنْ كُنَّا أَوَّلَ الْمُؤْمِنِينَ
”Fir`aun berkata: "Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya". Mereka berkata: "Tidak ada kemudharatan (bagi kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami, sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman". (QS Asy-Syuara ayat 49-51)

Orang-orang yang sibuk menggapai Ridho Allah semata dalam hidupnya sangat meyakini bahwa hanya Allah sajalah yang patut di jadikan prioritas utama kecintaan, kepatuhan dan rasa takut. Mereka berusaha untuk selalu mendahulukan Allah dalam setiap gerak-gerik hidupnya. Mereka sangat benci menyekutukan atau menduakan apalagi men-tigakan Allah, Rabbul’aalamiin. Sebab mereka sangat yakin bahwa Allah sajalah Raja di langit dan Raja di bumi. Sehingga dalam menyerahkan kecintaan, kepatuhan atau rasa takut kepada selain Allah mereka tidak akan pernah mau menyetarakan apalagi mendahulukan selain Allah. Sikap mereka kepada para pemimpin dan pembesar dunia adalah sikap yang sangat proporsional. Mereka hanya mau mentaati pemimpin yang senantiasa mengajak kepada meraih Ridho Allah juga. Namun bila pemimpin yang ada malah mengalihkan mereka dari mengejar Ridho Allah, maka bagi orang-orang mukhlis Ridho Allah jauh lebih utama didahulukan.

Kaum mukhlisin hanya meyakini bahwa jalan hidup yang sepatutnya dilalui hanyalah jalan hidup yang mendatangkan keridhoan Allah. Sedangkan Allah telah menegaskan bahwa hanya Islam-lah jalan hidup atau dien yang diridhaiNya.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
”Sesungguhnya dien atau agama atau jalan hidup (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran ayat 19)

Sedemikian yakinnya kaum mukhlisin akan kebenaran pernyataan Allah di atas, sehingga di dalam hati mereka tidak tersisa lagi cadangan kepercayaan akan jalan hidup lainnya. Sebab semua jalan hidup lainnya bukan dari Allah yang mereka senantiasa kejar keridhaanNya. Jalan hidup lainnya hanyalah jalan hidup palsu bikinan manusia yang seringkali dihiasi dengan nafsu dan sikap zalim serta keterbatasan ilmu alias jahil atau bodoh. Orang-orang mukhlis tidak lagi menyisakan di dalam diri mereka kepercayaan akan Liberalisme, Pluralisme, Sekularisme, Kapitalisme, Sosialisme, Komunsime, Humanisme, Hedonisme apalagi Demokrasi. Semua jalan hidup itu bagi mereka tidak menjamin akan mendatangkan keridhoan Alllah. Padahal mereka sudah sangat yakin bahwa hidup tanpa keridhoan Allah adalah kehidupan yang merugi dan penuh ke-sia-siaan.

Kaum mukhlisin hanya meyakini bahwa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan satu-satunya teladan dan prototype sempurna yang wajib diteladani segenap sepakterjang perjuangannya. Bilamana menempuh jalan uswah tersebut berakibat kepada munculnya kehidupan yang penuh kesulitan dan jalan mendaki, maka mereka dengan rela hati akan menempuhnya. Bila karena meneladani Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam

mereka harus mengalami pengucilan dan stigma negatif dari kebanyakan manusia, maka mereka dengan sabar terus menempuhnya. Tidak sedikitpun rayuan dan iming-iming maupun ancaman dan black campaign fihak musuh dapat menyimpangkan mereka dari jalan hidup teladan utama ini. Karena kaum mukhlisin sangat yakin bahwa menegakkan sunnah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam merupakan satu-satunya jalan untuk meraih keridhoan Allah.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al-Ahzab ayat 21)

Sedangkan meninggalkan sunnah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam hanya akan mengantarkan mereka kepada kesenangan sementara dunia namun mengakibatkan penderitaan abadi dan hakiki di dalam kehidupan akhirat kelak nanti. Apalah artinya ”seolah berjaya” sebentar di dunia untuk kemudian merugi dan menyesal selamanya di akhirat. Lebih baik bersabar sebentar di dunia untuk menikmati kesenangan dan kebahagiaan sejati lagi abadi di kampung halaman jannatun-na’iim.

Maka para pemburu Ridho Allah setiap hari senantiasa memperbaharui komitmen mereka dengan mengikrarkan di dalam dirinya kalimat “Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Al-Islam sebagai dien (jalan hidup) dan Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sebagai Nabi”. Pengulangan ikrar harian ini menjadi sangat penting sebab ia merupakan salah satu jalan untuk memastikan bahwa Ridho Allah menyertai mereka ketika sudah berjumpa Allah di hari Kiamat atau hari Berbangkit. Demikianlah anjuran Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam kepada ummatnya sebagaimana diterangkan di bawah ini:


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَقُولُ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي ثَلَاثَ مَرَّاتٍ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Bersabda Rasulullah saw: “Tidak ada seorang Muslim yang membaca di pagi hari dan di sore hari sebanyak tiga kali “Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Al-Islam sebagai dien (jalan hidup) dan Muhammad sebagai Nabi”, kecuali Allah pasti meridhainya pada hari Kiamat.” (HR Ahmad)

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ إِنْسَانٍ أَوْ عَبْدٍ يَقُولُ

حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا

إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Bersabda Rasulullah saw: “Tidak ada seorang Muslim atau seorang manusia atau hamba yang membaca di sore hari dan di pagi hari: “Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Al-Islam sebagai dien (jalan hidup) dan Muhammad sebagai Nabi”, kecuali Allah pasti meridhainya pada hari Kiamat.” (HR Ibnu Majah)


Sumber : http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/doa-untuk-memperoleh-ridho-allah.htm

Rahasia Senyum Muhammad SAW,

Oleh: Ulis Tofa, Lc
Kirim Print
dakwatuna.com - Ketika Anda membuka lembaran sirah kehidupan Muhammad saw., Anda tidak akan pernah berhenti kagum melihat kemuliaan dan kebesaran pribadi beliau saw.
Sisi kebesaran itu terlihat dari sikap seimbang dan selaras dalam setiap perilakunya, sikap beliau dalam menggunakan segala sarana untuk meluluhkan kalbu setiap orang dalam setiap kesempatan.
Sarana paling besar yang dilakukan Muhammad saw. dalam dakwah dan perilaku beliau adalah, gerakan yang tidak membutuhkan biaya besar, tidak membutuhkan energi berlimpah, meluncur dari bibir untuk selanjutnya masuk ke relung kalbu yang sangat dalam.

Jangan Anda tanyakan efektifitasnya dalam mempengaruhi akal pikiran, menghilangkan kesedihan, membersihkan jiwa, menghancurkan tembok pengalang di antara anak manusia!. Itulah ketulusan yang mengalir dari dua bibir yang bersih, itulah senyuman!

Itulah senyuman yang direkam Al Qur’an tentang kisah Nabi Sulaiman as, ketika Ia berkata kepada seekor semut,

“Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. An Naml:19

Senyuman itulah yang senantiasa keluar dari bibir mulia Muhammad saw., dalam setiap perilakunya. Beliau tersenyum ketika bertemu dengan sahabatnya. Saat beliau menahan amarah atau ketika beliau berada di majelis peradilan sekalipun.

فهذا جرير -رضي الله عنه- يقول -كما في الصحيحين-: ما حَجَبني رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- منذُ أسملتُ، ولا رآني إلا تَبَسَّم في وجهي.

Diriwayatkan dari Jabir dalam sahih Bukhari dan Muslim, berkata, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah saw tidak pernah menghindar dariku. Dan beliau tidak melihatku kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku.”

Suatu ketika Muhammad saw. didatangi seorang Arab Badui, dengan serta merta ia berlaku kasar dengan menarik selendang Muhammad saw., sehingga leher beliau membekas merah. Orang Badui itu bersuara keras, “Wahai Muhammad, perintahkan sahabatmu memberikan harta dari Baitul Maal! Muhammad saw. menoleh kepadanya seraya tersenyum. Kemudian beliau menyuruh sahabatnya memberi harta dari baitul maal kepadanya.”

Ketika beliau memberi hukuman keras terhadap orang-orang yang terlambat dan tidak ikut serta dalam perang Tabuk, beliau masih tersenyum mendengarkan alasan mereka.

يقول كعب -رضي الله عنه- بعد أن ذكر اعتذار المنافقين وحلفهم الكاذب: فَجِئْتُهُ فَلَمَّا سَلَّمْتُ عَلَيْهِ تَبَسَّمَ تَبَسُّمَ الْمُغْضَبِ، ثُمَّ قَالَ «تَعَالَ» . فَجِئْتُ أَمْشِي حَتَّى جَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ.

Ka’ab ra. berkata setelah mengungkapkan alasan orang-orang munafik dan sumpah palsu mereka:

“Saya mendatangi Muhammad saw., ketika saya mengucapkan salam kepadanya, beliau tersenyum, senyuman orang yang marah. Kemudian beliau berkata, “Kemari. Maka saya mendekati beliau dan duduk di depan beliau.”

Suatu ketika Muhammad saw. melintasi masjid yang di dalamnya ada beberapa sahabat yang sedang membicarakan masalah-masalah jahiliyah terdahulu, beliau lewat dan tersenyum kepada mereka.

Beliau tersenyum dari bibir yang lembut, mulia nan suci, sampai akhir detik-detik hayat beliau.

- يقول أنس -كما في الصحيحين-: بينما الْمُسْلِمُونَ في صَلاَةِ الْفَجْرِ مِنْ يَوْمِ الإِثْنَيْنِ وَأَبُو بَكْرٍ يُصَلِّي بَهُمْ لَمْ يَفْجَأْهُمْ إِلاَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدْ كَشَفَ سِتْرَ حُجْرَةِ عَائِشَةَ، فَنَظَرَ إِلَيْهِمْ وَهُمْ فِي صُفُوفِ الصَّلاَةِ. ثُمَّ تَبَسَّمَ يَضْحَكُ!
Anas bin Malik berkata diriwayatkan dalam sahih Bukhari dan Muslim, “Ketika kaum muslimin berada dalam shalat fajar, di hari Senin, sedangkan Abu Bakar menjadi imam mereka, ketika itu mereka dikejutkan oleh Muhammad saw. yang membuka hijab kamar Aisyah. Beliau melihat kaum muslimin sedang dalam shaf shalat, kemudian beliau tersenyum kepada mereka!”

Sehingga tidak mengherankan beliau mampu meluluhkan kalbu sahabat-shabatnya, istri-istrinya dan setiap orang yang berjumpa dengannya!

Menyentuh Hati

Muhammad saw. telah meluluhkan hati siapa saja dengan senyuman. Beliau mampu “menyihir” hati dengan senyuman. Beliau menumbuhkan harapan dengan senyuman. Beliau mampu menghilangkan sikap keras hati dengan senyuman. Dan beliau saw. mensunnahkan dan memerintahkan umatnya agar menghiasi diri dengan akhlak mulia ini. Bahkan beliau menjadikan senyuman sebagai lahan berlomba dalam kebaikan. Rasulullah saw. bersabda,

فقال: (وتبسمك في وجه أخيك صدقة) رواه الترمذي وصححه ابن حبان.

“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” At Tirmidzi dalam sahihnya.
Meskipun sudah sangat jelas dan gamblang petunjuk Nabi dan praktek beliau langsung ini, namun Anda masih banyak melihat sebagaian manusia masih berlaku keras terhadap anggota keluarganya, tehadap rumah tangganya dengan tidak menebar senyuman dari bibirnya dan dari ketulusan hatinya.

Anda merasakan bahwa sebagian manusia -karena bersikap cemberut dan muka masam- mengira bahwa giginya bagian dari aurat yang harus ditutupi! Di mana mereka di depan petunjuk Nabi yang agung ini! Sungguh jauh mereka dari contoh Nabi muhammad saw.!

Ya, kadang Anda melewati jam-jam Anda dengan dirundung duka, atau disibukkan beragam pekerjaan, akan tetapi Anda selalu bermuka masam, cemberut dan menahan senyuman yang merupakan sedekah, maka demi Allah, ini adalah perilaku keras hati, yang semestinya tidak terjadi. Wal iyadzubillah.

Pengaruh Senyum

Sebagian manusia ketika berbicara tentang senyuman, mengaitkan dengan pengaruh psikologis terhadap orang yang tersenyum. Mengkaitkannya boleh-boleh saja, yang oleh kebanyakan orang boleh jadi sepakat akan hal itu. Namun, seorang muslim memandang hal ini dengan kaca mata lain, yaitu kaca mata ibadah, bahwa tersenyum adalah bagian dari mencontoh Nabi saw. yang disunnahkan dan bernilai ibadah.

Para pakar dari kalangan muslim maupun non muslim melihat seuntai senyuman sangat besar pengaruhnya.

Dale Carnegie dalam bukunya yang terkenal, “Bagaimana Anda Mendapatkan Teman dan Mempengaruhi Manusia” menceritakan:

“Wajah merupakan cermin yang tepat bagi perasaan hati seseorang. Wajah yang ceria, penuh senyuman alami, senyum tulus adalah sebaik-baik sarana memperoleh teman dan kerja sama dengan pihak lain. Senyum lebih berharga dibanding sebuah pemberian yang dihadiahkan seorang pria. Dan lebih menarik dari lipstik dan bedak yang menempel di wajah seorang wanita. Senyum bukti cinta tulus dan persahabatan yang murni.”

Ia melanjutkan, “Saya minta setiap mahasiswa saya untuk tersenyum kepada orang tertentu sekali setiap pekannya. Salah seorang mahasiswa datang bertemu dengan pedagang, ia berkata kepadanya, “Saya pilih tersenyum kepada istriku, ia tidak tau sama sekali perihal ini. Hasilnya adalah saya menemukan kebahagiaan baru yang sebelumnya tidak saya rasakan sepanjang akhir tahun-tahun ini. Yang demikian menjadikan saya senang tersenyum setiap kali bertemu dengan orang. Setiap orang membalas penghormatan kepada saya dan bersegera melaksanakan khidmat -pelayanan- kepada saya. Karena itu saya merasakan hidup lebih ceria dan lebih mudah.”

Kegembiraan meluap ketika Carnegie menambahkan, “Ingatlah, bahwa senyum tidak membutuhkan biaya sedikitpun, bahkan membawa dampak yang luar biasa. Tidak akan menjadi miskin orang yang memberinya, justeru akan menambah kaya bagi orang yang mendapatkannya. Senyum juga tidak memerlukan waktu yang bertele-tele, namun membekas kekal dalam ingatan sampai akhir hayat. Tidak ada seorang fakir yang tidak memilikinya, dan tidak ada seorang kaya pun yang tidak membutuhkannya.”

Betapa kita sangat membutuhkan sosialisasi dan penyadaran petunjuk Nabi yang mulia ini kepada umat. Dengan niat taqarrub ilallah -pendekatan diri kepada Allah swt.- lewat senyuman, dimulai dari diri kita, rumah kita, bersama istri-istri kita, anak-anak kita, teman sekantor kita. Dan kita tidak pernah merasa rugi sedikit pun! Bahkan kita akan rugi, rugi dunia dan agama, ketika kita menahan senyuman, menahan sedekah ini, dengan selalu bermuka masam dan cemberut dalam kehidupan.

Pengalaman membuktikan bahwa dampak positif dan efektif dari senyuman, yaitu senyuman menjadi pendahuluan ketika hendak meluruskan orang yang keliru, dan menjadi muqaddimah ketika mengingkari yang munkar.

Orang yang selalu cemberut tidak menyengsarakan kecuali dirinya sendiri. Bermuka masam berarti mengharamkan menikmati dunia ini. Dan bagi siapa saja yang mau menebar senyum, selamanya ia akan senang dan gembira. Allahu a’lam

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/rahasia-senyum-muhammad/

Selasa, 13 September 2011

Kegagalan, Sebuah Hasil Atau Proses?

Kegagalan, Sebuah Hasil Atau Proses?
Tiada satupun orang di dunia ini yang ingin merasakan kegagalan. Karena menurut kebanyakan orang kegagalan adalah sesuatu yang menyakitkan, mengecewakan, menyedihkan, bahkan menghinakan.

Zaman dulu di Jepang, sebuah kegagalan sepantasnya dibayar dengan harakiri, sebuah tradisi bunuh diri yang marak di kalangan Samurai dan pejabat kerajaan. Di kalangan mafia Amerika, anggota yang gagal menjalankan misi akan dijadikan buronan untuk dibunuh. Di tempat lain, orang yang gagal memegang norma sosial akan dikucilkan dari lingkungannya. Dan masih banyak lagi jenis konsekuensi yang akan menimpa seseorang ketika ia dicap sebagai orang gagal.

Namun, sebagai seorang manusia yang tidak akan luput dari khilaf, kegagalan adalah hal yang wajar kita temui dan kita alami. Hampir di setiap waktu kita berpotensi untuk gagal. Gagal mengatur waktu, gagal meraih nilai baik saat ujian, gagal mendapatkan beasiswa studi, gagal dalam perlombaan, gagal mempertahankan argumen, gagal dalam menjalankan usaha, gagal mendapatkan cinta, dan kegagalan lain yang tak terhitung jumlahnya.

Jadi, tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak pernah merasakan kegagalan. Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, seorang nabi akhir zaman yang menurut Michael H. Hart adalah pribadi paling berpengaruh di dunia pun juga pernah mengalami kegagalan. Beberapa contohnya adalah kegagalan memenangkan Perang Uhud, dan kegagalan untuk meyakinkan Kaum Kafir Quraisy agar bersedia menerima Islam pada masa awal penyebarannya.

Tokoh sukses yang sekarang menghiasi buku-buku pelajaran sejarah, diberitakan media, dan malang melintang dibicarakan banyak orang juga pernah merasakan kegagalan. Thomas Alva Edison, pemilik paten terbanyak dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, pernah dianggap idiot oleh gurunya sehingga dia dikeluarkan dari sekolah. Tompi, seorang penyanyi pemilik suara khas jazz yang jarang ditemui di Indonesia, sewaktu kecil pernah dicela guru seninya karena memiliki suara cempreng. Asma Nadia, penulis produktif yang kini telah menerbitkan puluhan karya best seller, naskah cerpennya pernah dijadikan bahan tertawaan oleh seniornya di teater.

Sebenarnya masih banyak lagi contoh orang besar yang berkali-kali gagal, tetapi tidak mengurangi kontribusi mereka untuk layak disebut sebagai ‘orang besar’. Itu membuktikan bahwa kegagalan bisa menimpa siapa saja. Tidak peduli dia kaya atau berkecukupan, berotak cerdas atau biasa saja, aktif atau pasif, pasti semuanya pernah mengalami kegagalan.

Bagaimana Seseorang Dianggap Gagal?

Secara psikologis sangat jelas, seperti yang disinggung di awal kalau kegagalan akan perasaan sakit, kecewa, sedih, hina, bagi orang yang merasakan dampaknya. Seorang suporter sepak bola akan menganggap tim yang dibelanya gagal karena timnya tersebut selalu kalah di setiap pertandingan. Seorang pimpinan perusahaan akan menganggap anak buahnya gagal ketika kinerjanya mengecewakan. Seorang suami istri akan menganggap pernikahan mereka gagal ketika di dalam rumah tangga yang ada hanyalah kesedihan, bukan kebahagiaan.

Secara sosial, orang dianggap gagal ketika tidak bisa memegang nilai, norma, maupun budaya yang berlaku di masyarakat. Namun dalam sudut pandang sosial ini, semuanya relatif dan sangat bergantung pada nilai, norma, dan budaya tersebut. Bisa jadi satu masyarakat dengan masyarakat lain akan berbeda pandangan tentang ukuran kegagalan seseorang.

Dalam keluarga ilmuan, seorang seniman dianggap gagal karena tidak berpijak pada nilai-nilai ilmiah. Di kalangan dosen dan akademisi, seorang mahasiswa dianggap gagal ketika IPK mereka rendah. Di komunitas preman, anggota yang tidak merokok dan menegak minuman keras dianggap gagal karena dinilai gak gaul. Di kalangan profesional, seseorang dianggap gagal ketika tidak becus menyelesaikan tugas. Dalam lingkungan Islami, orang akan dianggap gagal ketika tidak bisa menerapkan syari’at secara baik dan benar.

Intinya, anggapan bahwa seseorang gagal atau tidak adalah relatif. Baik dari segi psikologi maupun sosial, masing-masing memiliki perspektifnya sendiri-sendiri dalam memandang kegagalan. Setiap instrumen yang ada di dalamnya, bisa bersikap berbeda terhadap satu perlakuan. Jika tidak ingin disebut sebagai seseorang yang gagal, tinggal bagaimana sikap kita terhadap lingkungan masyarakat dan seberapa kuat usaha kita untuk tidak gagal.

Menghindari Kegagalan, Bisakah?

Kita tahu bahwa tidak ada orang yang ingin merasakan gagal. Kita juga tahu bahwa tidak ada orang yang lepas dari kegagalan. Namun terkadang kita masih menawar, “Meskipun tidak bisa terlepas dari kegagalan, masih bisakah kita menghindarinya?”

Ada orang yang berpikiran, tanpa melakukan sesuatu kita bisa menghindari kegagalan. Logika yang dipakai adalah logika –penulis menyebutnya- ‘jalan tengah’. Kira-kira gambaran mudahnya seperti ini; “Kalau tidak ingin gagal, tidak usah melakukan sesuatu. Dengan begitu kita tidak akan merasakan kegagalan, ataupun meraih kesuksesan.”

Sepintas masuk akal, kegagalan ‘tampak’ bisa dihindari. Tetapi apakah logika itu tepat fungsi?
Orang yang tidak bekerja tidak akan meraih hasil dari suatu pekerjaan (tidak berhasil). Sedangkan tidak berhasil adalah sama dengan gagal. Jadi bagaimana bisa dengan tidak melakukan apapun kita bisa menghindari kegagalan?

Sebelum melanjutkan pembahasan, mari bertanya kepada diri, selama ini kita beranggapan kegagalan adalah hasil dari suatu proses ataukah proses untuk menggapai hasil?

Kalau kita menganggap kegagalan adalah hasil dari suatu proses sama saja kita mengaggap bahwa sebuah perjuangan panjang yang tidak berujung pada kemenangan dianggap sebagai suatu kegagalan. Seorang siswa SMA yang berjuang keras, bersimbah peluh untuk menghadapi Ujian Nasional harus terjerembab hanya karena kesalahan eksekusi akhir cenderung dianggap gagal oleh orang-orang di sekitarnya. Inilah pilihan kebanyakan orang yang menganggap bahwa hasil akhir adalah segalanya.

Dengan anggapan bahwa kegagalan adalah suatu hasil, akhirnya muncul pemikiran, “Diam tidak melakukan apapun bisa menghindari kegagalan.” Ketika ada perlombaan lari misalnya, karena takut gagal meraih juara seseorang tidak jadi ikut lomba. Dia berpikir, “Juara adalah hasil, kalau tidak meraih juara berarti tidak berhasil, alias gagal. Jadi lebih baik tidak ikut lomba sehingga tidak perlu gagal.”

Sedangkan jika anggapannya bahwa kegagalan adalah proses berarti kita mengaggap dalam setiap kegagalan yang terjadi saat ini, menyimpan asa keberhasilan untuk esok dan nanti. Orang-orang besar telah membuktikan bahwa kegagalan yang datang tidak sekali dua kali membuat kemampuan mereka semakin terasah sedemikian hebat. Ketika memang tiada hasil akhir yang manis bagi orang yang telah berjuang keras, maka cukuplah perjuangannya menjadi kado terindah untuk dirinya.

Karena sebuah proses dinilai secara holistik, maka dari awal sampai akhir nilai-nilai perjuangan itu akan diakumulasi. Ketika seseorang tidak melakukan sesuatu apapun demi menghindari kegagalan, maka sesungguhnya dia telah gagal untuk mencoba, gagal untuk sukses, dan gagal untuk menghindari kegagalan. Karena kegagalan bukanlah untuk dihindari, tetapi untuk dilewati.

Kalaupun ada, satu-satunya cara menghindari kegagalan adalah meraih kesuksesan. Sedangkan kesuksesan tidak mungkin di raih tanpa kita berbuat sesuatu. Gagal atau ‘tidak berhasil’, hanya bisa dihindari dengan ‘berhasil’. Suatu keburukan tidak akan dapat dihapus oleh diam, keburukan hanya dapat dihapus oleh kebaikan.

Apa yang Engkau Takutkan dari Sebuah Kegagalan, Kawan?

Kita memahami kalau kegagalan adalah hal lazim dalam sebuah proses kehidupan. Kita juga sudah mengetahui bahwa kegagalan ada bukan untuk dihindari. Namun mengapa kita masih takut mengalaminya?
Masyarakat kita belum bisa sukses bukan karena mereka tidak berpotensi, melainkan kebanyakan dari mereka masih takut gagal. Sebelum mencoba, mereka sudah membayangkan hal buruk yang tidak-tidak jika mereka mengalami kegagalan. Akhirnya mindset perjuangan yang berkembang luas di masyarakat kita adalah, “Bagaimana menghindari kegagalan,” bukan, “Bagaimana meraih kesuksesan.”

Andaipun nanti kita gagal, apa dampak signifikan bagi diri kita? Apakah umur kita berkurang? Apakah dunia akan kiamat? Apakah orang-orang akan mengucilkan kita? Apakah Allah akan murka pada kita? Selama kegagalan itu bukanlah kegagalan untuk taat pada-Nya, kita tidak perlu khawatir. Karena Allah akan menolong seorang hamba yang senantiasa mentaati-Nya.

Seorang presiden dan para menteri tidak mungkin menjadi seperti apa meraka sekarang jikalau dulunya mereka takut gagal. Meskipun presiden dan menteri-menteri itu di manapun dirinya berada selalu dihujat, dikatakan gagal, hendak diturunkan, dan sebagainya, mereka berkeyakinan bahwa dengan berkontribusi sebagai presiden dan menteri mereka bisa berbuat banyak untuk rakyat. Hujatan itu hanyalah dari manusia, sedangkan manusia juga punya potensi untuk salah. Lalu mengapa harus takut?

Yang perlu kita takutkan adalah ketika kita tidak bisa memberi kemanfaatan kepada orang lain. Ketika kita berdiam diri –karena takut gagal- kita tidak akan bisa menolong orang lain yang kesusahan, kita tidak bisa membuat dunia ini menjadi lebih baik, dan kita tidak akan bisa membuat diri kita sendiri bahagia. Karena seseorang akan merasakan puncak kebahagiaan di dunia ketika dia bisa bermanfaat dan berguna bagi orang lain.

Menghilangkan Kata ‘Gagal’ dari Kamus Kehidupan Kita

Mengapa di kamus kehidupan orang biasa masih terselip istilah gagal? Karena orang biasa hanya berpikir untuk sukses. Ketika mereka tidak meraih sukses mereka akan gagal. Sedangkan pada diri orang hebat tidak ada kata ‘gagal’ dalam kamus kehidupan mereka. Karena di benak mereka tidak ada paradigma ‘sukses atau gagal’, melainkan ‘seberapa sukses dirinya’. Ketika dia belum bisa meraih sesuatu, dia tidak menganggapnya sebagai sebuah kegagalan, melainkan kesuksesan yang belum mencapai target.

Dalam diri orang hebat yang namanya kegagalan hanyalah satu; gagal. Dan kalau ternyata mereka mengalami kegagalan, hanya satu pula yang mereka lakukan; berusaha untuk lebih sukses. Namun berbeda ketika mereka memandang sukses. Sukses itu bertingkat-tingkat. Ketika satu kesuksesan diraih, masih ada kesuksesan lain yang bisa dikejar.

Sangatlah rugi orang yang hanya memikirkan kegagalan, namun melupakan kesuksesan yang menjulang setinggi langit. Ibarat orang yang selalu memandang ke bawah menghindari lubang beberapa jengkal yang dikhawatirkan membuat mereka terjerembab, namun mereka tidak tahu kalau di hadapan mereka ada tangga yang bisa mengantarkan mereka ke tempat yang lebih tinggi.

http://www.fimadani.com/kegagalan-sebuah-hasil-atau-proses/

Jumat, 09 September 2011

Membangun Kesalehan yang Utuh

dakwatuna.com – Membangun kesalehan diri kadang seperti berkendaraan di jalan yang sepi. Harus mampu mengukur situasi: apakah kendaraan melaju terlalu cepat, atau sangat lambat. Bahkan boleh jadi, keasyikan di suasana sepi bisa membuat pengendara tertidur.

Ada doa menarik yang pernah diucapkan Umar bin Khaththab r.a. Suatu kali, ia memohon pada Allah, “Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari keganasan orang-orang durjana. Dan dari kelemahan orang-orang saleh.”

Kalimat terakhir dari doa Umar itu, mempunyai pelajaran tersendiri. Bahwa, kesalehan tidak selamanya utuh. Ia bisa terjebak pada keasyikan ego. Bisa terperosok dengan kelemahan diri yang terbungkus sebuah pandangan: dunia memang harus dijauhi.

Dari situlah, orang-orang saleh menjadi mutiara yang terbungkus. Yang cuma bernilai untuk dirinya sendiri. Tidak pernah muncul di masyarakatnya. Tidak mau tampil membenahi lingkungannya yang teranggap ‘kotor’.

Allah swt. pernah memberi pelajaran berharga kepada seorang hamba-Nya yang sangat saleh, Yunus bin Mata. Ketika Nabi Yunus pergi meninggalkan kaumnya yang ingkar, tanpa arahan dari Allah swt., ia mendapat teguran. Teguran itu dirasakan Yunus ketika ia berada dalam perut ikan paus. Ketika itu, ia merasakan tiga kegelapan: gelapnya malam, gelapnya dasar lautan, dan gelapnya dalam perut ikan.

Saat itulah, Yunus tersadar kalau ia telah meninggalkan tanggung jawab besar. Ia bertasbih dan beristighfar. Firman Allah swt., “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya. Maka, ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: tidak ada ilah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (Al-Anbiya’:87)

Kalau saja bukan karena tasbihnya, Nabi Yunus tidak akan pernah keluar dari perut ikan. “Maka ia (Nabi Yunus) ditelan ikan besar dalam keadaan tercela. Maka sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah (musabbihin), niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (Ash-Shaaffaat:142-144)

Mungkin, hampir tidak ada orang-orang saleh saat ini yang pindah rumah karena lari dari tanggung jawab umat. Tapi, mereka mungkin saja pindah bukan dalam arti fisik. Tapi, lebih karena menyusutnya kepedulian. Mereka lebih betah berada di rumah dan masjid, daripada berbaur dengan lingkungan. Lebih senang menyibukkan diri dalam ‘pengasingan’ daripada melakukan perubahan.

Sayangnya, lemah diri karena tidak mampu menghadapi kenyataan lingkungan seperti menjadi prestasi. Dan setan terus menghibur, “Anda memang orang saleh. Tidak ada orang sesaleh Anda. Teruslah jaga kebersihan diri Anda. Jangan kotori dengan bergaul pada lingkungan yang kotor.”

Di tahun keseratus hijriyah, ada seorang ahli ibadah yang begitu wara dan zuhud. Beliau adalah Fudhail bin ‘Iyadh. Ia ingin menebus kekhilafannya di masa lalu dengan tinggal di Baitul Haram. “Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku dengan tinggal di Baitul Haram,” tekad Fudhail begitu kuat.

Sejak itu, Fudhail menyibukkan diri dengan ibadah di masjidil Haram. Ia kerap menangis menyesali dosa-dosa yang pernah terlakoni. Sedemikian seringnya menangis, hingga di kedua pipinya terbentuk celah bekas aliran air mata.

Ia pun menjaga keluarganya dari makanan yang subhat. Ia menolak semua hadiah dari bangsawan dan raja-raja yang kebetulan berkunjung ke Baitul Haram. Fudhail lebih sreg menghidupi keluarganya dengan mengurus air di Makkah.

Namun, ia tidak menyangka kalau semua itu belum apa-apa. Kesalehan yang selama ini ia jaga ternyata masih jauh dari yang semestinya. Itulah sebuah pelajaran yang didapat Fudhail setelah bertemu seorang ulama hadits besar, Abdullah Ibnu Mubarak.

Sebuah untaian kalimat ditulis Abdullah Ibnu Mubarak khusus buat sahabatnya tercinta, Fudhail bin ‘Iyadh:

Wahai ‘abid Al-Haramain,
seandainya engkau memperhatikan kami,
engkau pasti tahu bahwa selama ini
engkau hanya main-main dalam beribadah.
Kalau pipi-pipi kalian basah dengan air mata
maka leher-leher kami basah bersimbah darah.
Kalau kuda-kuda kalian letih dalam hal yang sia-sia,
maka kuda-kuda kami letih di medan laga.
Semerbak wanginya parfum, itu untuk kalian,
sedangkan wewangian kami pasir dan debu-debu.
Telah datang Al-Quran kepada kita menjelaskan,
para syuhada tidak akan pernah mati, dan itu pasti.

Usai membaca surat itu, Fudhail meneteskan air matanya. Ia pun mengatakan, “Engkau benar, Ibnu Al-Mubarak. Demi Allah, engkau benar!”

oleh : Muhammad Nuh
Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/membangun-kesalehan-yang-utuh/